Kamis, 06 November 2025

BERBAGAI JENIS JEMBATAN KERETA API DARI MASA KE MASA

Pada masa kolonial Belanda, konstruksi jembatan kereta api di Indonesia dibangun dengan beragam tipe dan bentuk, menyesuaikan kebutuhan serta kondisi masing-masing lokasi. Berbeda dengan praktik saat ini, perencanaan jembatan kereta api modern lebih mengutamakan penggunaan desain tipikal yang relatif seragam, sehingga hanya memerlukan sedikit penyesuaian di setiap lokasi. Pendekatan ini membuat ragam tipe jembatan baru menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan jembatan peninggalan masa kolonial.

Berikut adalah daftar jenis-jenis jembatan kereta api peninggalan Belanda yang ada di Sumatera Barat khususnya pada jalur non aktif:


 

Jembatan dinding rangka tertutup


Jembatan dinding rangka terbuka


Jembatan dinding rangka parabol


Jembatan dinding plat


Jembatan rasuk kembar


Jembatan Rasuk Dlurung


Jembatan Rasuk Plat


Jembatan Rasuk plat parabol


Jembatan rasuk rangka




Jembatan baja tipe WTT adalah jenis jembatan rangka baja “through truss”, di mana jalur kereta berada di dalam kerangka rangka baja. Elemen‐elemennya—chord atas dan bawah, batang diagonal, vertikal, serta portal—umumnya disambung dengan teknik pengelasan (welded), sehingga menghasilkan struktur yang lebih ringkas dan efisien dibanding jembatan baut tradisional. Desain ini populer untuk bentang menengah karena mudah dipabrikasi, lebih cepat dirakit di lapangan, dan mampu menahan beban kereta yang besar dengan deformasi yang masih dalam batas izin. Secara umum, sistem rangka segitiga membuat distribusi beban berjalan stabil dan efektif dari rel menuju tumpuan.

Fakta menariknya, studi teknis di Indonesia menunjukkan bahwa lendutan jembatan WTT umumnya memenuhi batas aman, tetapi beberapa batang—terutama diagonal atau elemen sambungan—sering menjadi titik yang paling kritis terhadap tegangan, sehingga kadang memerlukan penebalan profil atau penambahan stiffener. Detail las adalah area yang membutuhkan perhatian khusus karena dapat menjadi titik konsentrasi tegangan dan risiko fatigue, sehingga inspeksi berkala sangat penting. WTT banyak digunakan pada jaringan rel nasional, khususnya untuk modernisasi bentang lama karena strukturnya yang ringan, efisien, dan cocok untuk implementasi cepat.


Jembatan WTT

Jembatan baja tipe WTP adalah varian jembatan baja through-type di mana elemen utamanya menggunakan pelat baja (plate) yang dilas untuk membentuk elemen struktural—baik sebagai balok induk, diafragma, maupun pengaku. Tidak seperti tipe WTT yang tersusun dari rangka batang (truss), WTP lebih menyerupai kombinasi balok pelat dan komponen pelat pengaku sehingga menghasilkan bentuk struktur yang lebih sederhana dan lebih kaku terhadap lentur. Karena mengandalkan elemen pelat yang disambung dengan pengelasan, fabrikasi dapat dilakukan dengan relatif cepat dan presisi di pabrik, lalu dirakit di lokasi. Sistem ini cocok untuk bentang pendek–menengah, terutama pada kondisi ruang terbatas atau ketika konstruksi truss dinilai kurang efisien.

Fakta menariknya, WTP memberi keuntungan berupa penampang yang lebih kompak, mudah dikombinasikan dengan sistem slab atau lantai baja, serta relatif lebih mudah dalam perawatan karena tidak banyak batang yang saling bersilangan seperti pada truss. Namun, karena sebagian besar elemen adalah pelat las panjang, isu yang paling diperhatikan adalah risiko distorsi akibat pengelasan, konsentrasi tegangan pada sambungan, dan potensi fatigue terutama pada area detail sambungan pelat. WTP cenderung memiliki respons struktur yang lebih “solid” dibanding rangka truss—lebih menyerupai balok kotak (box-girder) sederhana—sehingga cocok digunakan pada jembatan kereta api yang mengutamakan kekakuan, keterbatasan tinggi struktur, serta kecepatan konstruksi. Jika ditangani dengan detailing dan proteksi korosi yang baik, tipe ini memiliki kinerja yang sangat andal dalam jangka panjang.

Jembatan WTP





Selasa, 25 Februari 2025

METODE KERJA GESERAN : Solusi Efisien untuk Penggantian Jembatan Kereta Api

Penggantian jembatan kereta api merupakan tantangan besar dalam dunia infrastruktur perkeretaapian. Proyek semacam ini membutuhkan perencanaan matang untuk memastikan kelancaran operasional kereta api, menjaga keselamatan pekerja, dan meminimalkan dampak bagi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, metode kerja geseran telah menjadi pilihan utama untuk mengatasi tantangan tersebut, karena menawarkan efisiensi waktu dan efektivitas kerja yang tinggi.





 

Apa Itu Metode Kerja Geseran?

Metode kerja geseran adalah teknik konstruksi yang digunakan untuk menggantikan jembatan eksisting dengan struktur baru melalui proses pergeseran horizontal. Teknik ini memungkinkan pembangunan jembatan baru dilakukan di luar jalur kereta api yang aktif, sehingga operasional kereta api dapat tetap berjalan selama proses konstruksi berlangsung.

Setelah struktur baru selesai dibangun, proses penggeseran dilakukan menggunakan alat seperti hidrolik jack atau katrol penarik. Jembatan lama biasanya dipindahkan ke sisi atau dibongkar setelah struktur baru berada pada posisinya.

Keunggulan Metode Kerja Geseran

Metode ini menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan teknik konvensional, antara lain:

1.       Efisiensi Waktu

Dengan membangun struktur baru di luar jalur, waktu penutupan jalur kereta api dapat diminimalkan. Metode ini sering kali memungkinkan pekerjaan selesai dalam hitungan jam, dibandingkan metode konvensional yang memerlukan hari atau bahkan minggu.

2.       Mengurangi Gangguan Operasional

Karena sebagian besar pekerjaan dilakukan di luar jalur utama, gangguan terhadap perjalanan kereta api dapat diminimalkan. Jalur hanya ditutup untuk waktu singkat selama proses penggeseran.

3.       Keamanan Lebih Baik

Metode geseran mengurangi risiko pekerjaan di area aktif jalur kereta api. Dengan memindahkan sebagian besar pekerjaan ke lokasi aman, keselamatan pekerja dan operasional kereta api dapat lebih terjamin.

4.       Efisiensi Biaya

Dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat dan gangguan operasional yang minimal, metode ini dapat membantu menekan biaya proyek secara keseluruhan.

 

Tahapan Pelaksanaan Metode Kerja Geseran

1.       Persiapan Struktur Pendukung

Tahap ini mencakup pekerjaan awal sebelum pelaksanaan utama dimulai. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemasangan perancah atau penyangga sementara, serta penyediaan alat berat dan material yang dibutuhkan. Persiapan juga mencakup pemasangan sistem penyangga atau bantalan geser yang akan digunakan dalam proses penggeseran jembatan baru.





 

2.       Pembongkaran Beton Abutmen Eksisting

Setelah struktur pendukung siap, tahap selanjutnya adalah pembongkaran abutmen lama. Proses ini dilakukan dengan metode yang memastikan keamanan struktur sekitar serta kelancaran pekerjaan berikutnya. Pembongkaran bisa dilakukan secara bertahap menggunakan alat berat seperti breaker atau pemotong beton, dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja dan stabilitas tanah di sekitar abutmen yang dibongkar.



 

3.       Pembangunan dan Perakitan Jembatan Baru

Pada tahap ini, elemen-elemen jembatan baru mulai dibangun dan struktur atas jembatan dirakit di lokasi yang telah disiapkan di sebelah jembatan eksisting.

 






4. Penggeseran Jembatan Baru ke Posisi As Track Sekaligus Menggeser Jembatan Lama ke Luar

Ini merupakan tahap kritis dalam pelaksanaan proyek. Jembatan baru yang telah dirakit akan digeser ke posisi final di atas as jalur rel. Proses ini biasanya menggunakan metode incremental launching atau sistem rel geser dengan alat bantu seperti jack hidrolik atau katrol penarik. Secara bersamaan, jembatan lama juga akan digeser ke luar untuk memberikan ruang bagi jembatan baru. Setelah jembatan baru berada pada posisi yang tepat selanjutnya dilakukan pengelasan untuk menyambungkan rel pada track dengan rel pada jembatan. Tahap ini harus dilakukan dengan koordinasi yang ketat dan perhitungan teknis yang akurat agar perpindahan jembatan berjalan lancar tanpa menghabiskan banyak waktu untuk menghindari dampak pada jadwal perjalanan kereta api.


 

5.       Pembongkaran Jembatan Lama dan Penyelesaian Akhir

Setelah jembatan baru berada pada posisinya, jembatan lama akan dibongkar sepenuhnya. Proses ini mencakup pemotongan dan pemindahan bagian-bagian struktur lama, pembongkaran struktur penyangga serta pembersihan area kerja. Setelah itu, dilakukan pekerjaan penyelesaian akhir mencakup finishing seperti pengecatan.

 


Tantangan dan Solusi

Walaupun efisien, metode kerja geseran memerlukan perencanaan dan koordinasi yang sangat detail. Tantangan utama meliputi kebutuhan alat berat dan pengukuran yang presisi, tenaga kerja dengan keahlian tinggi, serta perencanaan teknis yang matang untuk memastikan bahwa proses penggeseran berlangsung lancar. Untuk mengatasi tantangan ini, teknik pengawasan real-time membantu memastikan setiap langkah pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Metode kerja geseran adalah solusi yang menjawab kebutuhan efisiensi dan keselamatan dalam proyek penggantian jembatan kereta api. Dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, risiko kerja yang lebih rendah, dan gangguan operasional yang minimal, metode ini menjadi pilihan yang sangat efektif untuk mendukung pembangunan infrastruktur transportasi yang berkelanjutan. Inovasi dan teknologi yang terus berkembang diharapkan dapat semakin menyempurnakan penerapan metode ini di masa depan.




Sabtu, 16 November 2024

REL GONGSOL ATAU REL PAKSA PADA JALAN REL (Penerapan dan Manfaat dalam Infrastruktur Perkeretaapian)



Pada umumnya, jalur kereta api di Indonesia terdiri dari sepasang rel sejajar yang menjadi landasan utama perjalanan kereta. Namun, dalam situasi tertentu, terutama di area lengkung horizontal atau tikungan dengan radius kecil, terdapat konstruksi tambahan berupa rel ketiga yang dikenal sebagai rel gongsol atau rel paksa. Rel ini dirancang khusus untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta api saat melintasi tikungan tajam, biasanya dengan radius kurang dari 250 meter. Keberadaan rel gongsol tidak hanya berfungsi sebagai elemen pengaman tambahan tetapi juga membantu menjaga stabilitas roda kereta agar tetap pada lintasan yang benar, terutama di bawah tekanan gaya sentrifugal. Pemasangan rel gongsol diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 24 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian, yang menjadi panduan utama dalam penerapan standar keselamatan di jalur kereta api.

 

Fungsi Rel Paksa 

  1. Mengurangi Gaya Lateral

Ketika kereta melintas di lengkung, gaya sentrifugal membuat roda cenderung terdorong ke sisi luar rel. Rel gongsol membantu mengarahkan roda tetap pada posisinya dengan mengurangi tekanan pada rel luar.

  1. Menghindari Anjlok

Rel gongsol memandu roda bagian dalam (flens roda) agar tetap sejajar dengan rel utama. Ini penting saat kecepatan tinggi atau ketika ada beban berat yang dapat mengganggu stabilitas kereta.

  1. Melindungi Rel Utama

Dengan adanya rel gongsol, gaya lateral yang kuat tidak langsung menekan rel utama. Hal ini membantu mengurangi keausan atau kerusakan pada rel utama di area lengkung.

  1. Keamanan Tambahan di Tikungan Ekstrem

Pada tikungan tajam, rel paksa digunakan untuk memberikan perlindungan tambahan, terutama jika ada angin kencang atau beban asimetris.

 

Karakteristik dan Pemasangan

  1. Lokasi Pemasangan

Rel gongsol dipasang pada sisi dalam rel utama di tikungan atau lengkung tajam dengan radius kurang dari 250 meter,

  1. Jarak dan Dimensi

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 24 Tahun 2015 Tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian rel gongsol dipasang secara tetap dengan jarak 65 mm terhadap rel utama ditambah besarnya pelebaran jalan rel dan sepanjang 1,5 m dari kedua ujungnya melebar secara bertahap sampai dengan 180 mm pada bagian terujung.

  1. Material

Rel gongsol biasanya terbuat dari rel R.25/R.33 bekas yang dipasang pada bantalan khusus dengan tambahan braket sebagai penahan. Pemasangannya diperkuat dengan menggunakan baut.



  

Pemeliharaan

Pemeliharaan rel gongsol atau rel paksa adalah langkah penting untuk memastikan fungsinya tetap optimal, terutama dalam menjaga keselamatan operasi kereta api di tikungan tajam. Beberapa metode pemeliharaan yang umum diterapkan antara lain:

  1. Inspeksi Rutin

Rel gongsol diperiksa secara berkala untuk mendeteksi adanya keausan, retakan, atau deformasi yang dapat memengaruhi kinerjanya. Inspeksi ini biasanya mencakup kondisi rel, braket, dan sistem pengikatnya.

  1. Pengencangan Baut dan Perangkat Pengikat

Baut dan komponen pengikat yang mengamankan rel gongsol ke bantalan rel diperiksa untuk memastikan kekencangan dan kestabilannya. Longgarnya baut dapat menyebabkan perpindahan rel gongsol, yang mengurangi efektivitasnya.

  1. Penggantian Komponen yang Aus

Jika ditemukan komponen yang mengalami kerusakan atau aus, seperti rel itu sendiri, braket, atau pengikat, maka penggantian segera dilakukan untuk mencegah risiko kegagalan fungsi.

  1. Pembersihan Area Rel

Debu, kerikil, atau material lain yang mungkin menumpuk di sekitar rel gongsol dibersihkan secara berkala untuk menghindari gangguan pada roda kereta.


Rel gongsol, atau rel paksa, memberikan beberapa manfaat penting dibandingkan jalur rel standar di area tikungan tajam. Salah satu manfaat utamanya adalah peningkatan umur pakai rel utama. Dengan adanya rel gongsol, tekanan gaya lateral yang signifikan tidak langsung diterima oleh rel utama, melainkan diserap oleh rel tambahan ini. Hal ini membantu mengurangi keausan pada rel utama, terutama di tikungan dengan radius kecil, di mana gaya sentrifugal sangat tinggi.

Selain itu, penggunaan rel gongsol secara signifikan menurunkan risiko insiden anjlok (derailment). Rel gongsol menjaga stabilitas roda kereta dengan membatasi pergerakan lateral roda, sehingga kereta tetap berada pada jalur meskipun melaju dengan kecepatan tinggi di area tikungan. Hal ini memberikan keamanan tambahan bagi operasional kereta, terutama di wilayah yang memiliki banyak tikungan tajam atau berada di medan pegunungan.

 

 


Rabu, 16 Agustus 2023

LENGKUNG : TIKUNGAN PADA JALAN REL

Dalam perencanaan pembangunan sistem transportasi, baik itu jalan raya maupun rel kereta api pastinya akan ada halangan atau rintangan yang akan dihadapi. Jalur yang kita rencanakan biasanya tidak akan selalu lurus. Akan ada kontur tanah yang berbukit atau lembah yang harus kita hindari. Untuk menghindari rintangan itu jalur kereta api akan dibuat berbelok atau menikung. Hal ini lebih efisien dalam biaya pembangunan dibanding dengan membuat jembatan atau terowongan. Tentunya para perencana akan mempertimbangkan desain mereka sesuai kondisi geografis pada daerah yang direncanakan.


Pada artikel kali ini kita akan membahas sedikit tentang lengkung jalan rel berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia saat ini. 



sumber: dokumentasi pribadi



Tidak selalu lurus, jalan rel seringkali memiliki bagian-bagian yang melengkung (berbelok). Hal ini bertujuan untuk merubah arah dan mengikuti topografi permukaan tanah atau menghindari rintangan lainnya. Lengkung jalan rel harus didesain sedemikian rupa untuk menjaga keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api. 


Berikut adalah hal-hal penting pada lengkung jalan rel :


1. Radius lengkung

Seperti yang kita ketahui radius atau jari-jari adalah jarak yang diukur antara titik pusat lingkaran hingga ke titik-titik tepi lingkaran. Lengkung sama dengan sebuah kurva dimana sebuah kurva pastinya mempunyai radius agar terbentuk. 


Dalam perencanaan konstruksi jalan rel terdapat persyaratan untuk mendesain sebuah lengkung. Salah satunya adalah persyaratan radius minimum yang diizinkan sesuai dengan kecepatan rencana kereta api agar kereta tidak terjatuh atau terguling saat melewatinya. Berikut adalah persyaratan radius minimum yang diizinkan untuk lengkung jalan rel:


Kecepatan Rencana (Km/jam)

 Jari-jari minimum lengkung lingkaran tanpa lengkung peralihan (m)

 Jari-jari minimum lengkung lingkaran yang diijinkan dengan lengkung peralihan (m)

 120

 2370

 780

 110

 1990

 660

 100

 1650

 550

 90

 1330

 440

 80

 1050

 350

 70

 810

 270

 60

 600

 200

sumber: PM No. 60 tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api

Dari tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa lengkung peralihan hanya digunakan pada radius lengkung yang relatif kecil .



2. Lengkung peralihan

Lengkung peralihan adalah perubahan radius lengkung dari jalur lurus menuju lengkung penuh secara bertahap. Tujuan utama dari dibuatnya lengkung peralihan adalah untuk memastikan peralihan yang halus dan aman dari jalur lurus menuju jalur lengkung. Perubahan arah dari jalur lurus menuju lengkung (tikungan) secara tiba-tiba akan beresiko menyebabkan tergulingnya kereta api akibat gaya sentrifugal. 


untuk menentukan panjang minimum lengkung peralihan pada suatu lengkung dapat dihitung dengan rumus berikut: 

sumber: PM No. 60 tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api




3. Peninggian jalan rel pada lengkung

Saat kereta api melintasi lengkung jalan rel, akan ada gaya sentrifugal yang muncul dan mendorong kereta api ke arah luar lengkung. Gaya sentrifugal ini dapat diatasi dengan melakukan peninggian elevasi pada satu sisi rel yaitu rel sisi bagian luar lengkung. tujuannya adalah untuk membantu menjaga stabilitas dan mencegah terjadinya kecelakaan.


Peninggian elevasi rel luar pada area lengkung memungkinkan kereta api untuk melewati lengkungan dengan kecepatan yang lebih tinggi. Tanpa adanya peninggian, kereta api mungkin harus melambat untuk menghindari risiko guling dan kecelakaan saat melalui lengkungPeninggian rel pada area lengkung juga dapat meningkatkan kenyamanan penumpang yang menaiki kereta api.


Besar peninggian maksimum untuk lebar jalan rel 1067 mm adalah 110 mm dan untuk lebar jalan rel 1435 adalah 150 mm. Berikut adalah tabel peninggian jalan rel untuk lebar sepur 1067 dan 1435 menurut PM. 60 tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api:







4. Pelebaran jalan rel pada lengkung

Jalan rel pada kondisi jalur yang lurus akan menggunakan lebar standarnya seperti biasa. Apabila menggunakan lebar sepur 1067 mm maka pada jalur lurus akan digunakan ukuran yang sama. Hal ini akan berbeda pada kondisi lengkung dimana lebar sepur jalan rel akan ditambah sesuai dengan radius lengkungnya. 


Pelebaran ini bertujuan untuk mencegah roda kereta api mengalami hambatan saat melewati lengkung. Caranya adalah dengan menggeser posisi rel bagian dalam lengkung ke arah dalam. Perlebaran ini dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung peralihan. 


Khusus untuk radius lengkung diatas 600 m maka tidak perlu dilakukan pelebaran. 


Berikut adalah tabel pelebaran jalan rel untuk lebar sepur 1067 mm dan 1435 mm.




Pada pelaksanaan konstruksi jalan rel, pelebaran ini didapat dengan mengatur posisi shoulder bantalan beton. ini dilakukan pada saat pabrikasi bantalan beton, sehingga akan ada lima ukuran bantalan beton yang ditemui pada konstruksi jalan rel yang trasenya mempunyai radius 600 m kebawah. Untuk lebar sepur sempit, antaran lain :

  1. 1067 mm
  2. 1072 mm
  3. 1077 mm
  4. 1082 mm
  5. 1087 mm


Demikian pembahasan kita tentang lengkung jalan rel. Semoga bermanfaat. Salam.



Referensi: PM No. 60 tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api












Senin, 14 Agustus 2023

LEBAR SEPUR : BERAPA LEBAR STANDAR JALAN REL DI INDONESIA?

LEBAR SEPUR (TRACK GAUGE) YANG DIGUNAKAN di INDONESIA

Ukuran lebar jalan rel (track gauge), yang di Indonesia biasa dikenal sebagai "lebar sepur", adalah jarak antara kedua rel dalam satu sepur (jalur tunggal) atau jarak antara sisi terdalam rel ke sisi terdalam rel disebelahnya. Menurut PM 60 Tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api, lebar sepur diukur pada daerah 0-14 mm di bawah permukaan teratas kepala rel. 

Pengukuran lebar sepur jalur kereta api
sumber: dokumentasi pribadi


Toleransi lebar sepur jalan rel yang dapat diterima adalah +2 mm dan 0 mm untuk jalan rel baru, dan +4 mm dan -2 mm untuk jalan rel yang telah dioperasikan. 


sumber: PM No. 60 Tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api


Rata-rata lebar sepur yang digunakan di Indonesia adalah 1.067 mm (1 meter 67 milimeter). Beberapa tahun belakangan pembangunan jalur kereta baru yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian di Provinsi Sulawesi Selatan dan Aceh menggunakan lebar sepur 1435 mm. Selain itu Kereta Cepat Jakarta Bandung juga menggunakan lebar sepur 1435 mm. 


ALAT UKUR LEBAR SEPUR 

Track Gauge Measure atau yang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia biasa disebut Matisa (merk) adalah alat yang digunakan untuk mengukur lebar sepur jalur kereta api. alat ini berupa sebuah batangan logam aluminium yang ringan dan dapat dibawa dengan mudah. Dilengkapi dengan meter pengukur dan Nivo water pass. Selain digunakan untuk mengukur lebar sepur alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur peninggian jalan rel dan lebar celah rel gongsol (apa itu rel gongsol? akan kita bahas pada artikel selanjutnya ya..!).  


sumber: dokumentasi pribadi


MACAM-MACAM LEBAR SEPUR DI SELURUH DUNIA

Di seluruh dunia, terdapat beberapa macam ukuran lebar sepur yang digunakan dalam sistem transportasi kereta api. Setiap ukuran lebar sepur memiliki sejarah dan alasan teknisnya masing-masing, dan penggunaannya dapat berbeda-beda antar negara atau wilayah. Penggunaan lebar sepur yang berbeda di berbagai negara sering kali berkaitan dengan sejarah pembangunan sistem jalan rel di masing-masing wilayah, serta pertimbangan teknis kondisi geografis dan ekonomi yang berbeda pula.


Dilansir dari beberapa artikel pada google.com, berikut adalah beberapa ukuran lebar sepur yang umum dijumpai di berbagai belahan dunia antara lain:


1. Lebar Sepur Standar Internasional (Standard Gauge) 

Lebar sepur ini memiliki ukuran 1.435 mm (4 kaki 8½ inci). Lebar sepur standar internasional banyak digunakan di negara-negara Eropa, Amerika Utara, dan beberapa wilayah lain di dunia. Ini adalah ukuran yang paling umum digunakan di negara-negara maju dan sering digunakan untuk rel kereta cepat dan kereta barang.


2. Lebar Sepur Lebar (Broad Gauge) 

Lebar sepur lebar memiliki variasi ukuran, tetapi umumnya lebih lebar dari lebar sepur standar. Contohnya adalah lebar sepur lebar 1.676 mm yang banyak digunakan di India, Australia, dan beberapa negara lainnya. Tujuan utama dari lebar sepur lebar adalah meningkatkan stabilitas dan kapasitas angkutan barang.


3. Lebar Sepur Sempit (Narrow Gauge) 

Lebar sepur sempit adalah lebar sepur yang lebih sempit dari lebar sepur standar. Ukuran lebar sepur sempit dapat bervariasi dari sekitar 762 mm hingga 1.067 mm. Lebar sepur sempit umumnya digunakan di wilayah-wilayah dengan topografi yang sulit. Contoh negara yang menggunakan lebar sepur sempit adalah Jepang, dan Indonesia.


4. Lebar Sepur Super Lebar (Broadest Gauge) 

Beberapa negara memiliki lebar sepur yang sangat lebar, seperti lebar sepur 1.520 mm (5 kaki) yang digunakan di Rusia dan beberapa negara bekas Uni Soviet. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kapasitas angkutan barang.


5. Lebar Sepur Variabel (Variable Gauge) 

Teknologi lebar sepur variabel memungkinkan kereta untuk beroperasi pada lebih dari satu lebar sepur. Ini berguna di tempat-tempat di mana ada pertemuan antara jalur yang berbeda lebar sepurnya. Teknologi ini dapat menghemat waktu dan biaya peralihan antar-lebar sepur.

sumber: https://www.pandrol.com/

Demikian pembahasan singkat kita kali ini tentang lebar sepur jalur kereta api. Terima kasih.


Minggu, 13 Agustus 2023

BALAST : Peran Batu Kerikil dalam Menunjang Kestabilan Jalan Rel


Apa Itu Balast Rel Kereta Api?

Balast rel kereta api adalah lapisan bahan yang diletakkan di bawah dan di sekitar rel untuk mendukungnya. Bertujuan untuk mendistribusikan beban dari rel dan kereta api ke tanah di bawahnya dengan meredam getaran dan tekanan yang dihasilkan oleh pergerakan kereta api. Balast biasanya terbuat dari bahan seperti batu pecah, kerikil, atau material alam lainnya yang memiliki karakteristik khusus untuk memenuhi persyaratan tertentu.



sumber: dokumentasi pribadi


Berikut adalah persyaratan teknis agar balast  dapat digunakan pada konstruksi jalan rel :

  1. Balast harus terdiri dari batu pecah (25-60)mm dan memiliki kapasitas ketahanan yang baik, ketahanan gesek yang tingi dan mudah dipadatkan;
  2. Material balast harus bersudut banyak dan tajam;
  3. Porositas maksimum 3%;
  4. Kuat tekan rata-rata maksimum 1000 kg/cm2;
  5. Specific gravity minimum 2,6;
  6. kandungan tanah, lumpur dan organik maksimum 0,5%;
  7. kandungan minyak maksimum 0,2%;
  8. keausan balast sesuai dengan test Los Angeles tidak boleh lebih dari 25%


Peran Utama Balast

1. Pendistribusian Beban

Kereta api dan muatan yang diangkut memiliki bobot yang signifikan berat. Balast bekerja sebagai pengaman, menyebarkan beban ini ke area yang lebih luas dan mencegah penekanan berlebihan pada tanah di bawahnya. Ini membantu menjaga stabilitas jalur rel dan mencegah tenggelam atau pergeseran yang tidak diinginkan.


2. Peredaman Getaran

Ketika kereta api bergerak dengan kecepatan tinggi, getaran yang dihasilkan cukup besar. Balast bertindak seperti bantalan, menyerap sebagian besar getaran ini sehingga tidak merambat ke struktur di atasnya atau ke lingkungan sekitar. Hal ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan penumpang, tetapi juga melindungi struktur dari kerusakan akibat getaran berlebihan.


3. Stabilisasi Rel

Balast membantu menjaga rel tetap pada posisinya yang benar dan mencegah gesekan langsung antara rel dan tanah di bawahnya. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan jalur rel, terutama di area dengan perubahan suhu dan cuaca ekstrem.


4. Drainase

Balast juga dirancang untuk membantu dalam pengendalian drainase. Ini memungkinkan air hujan atau kelebihan air untuk mengalir melalui celah-celah balast dan menjauh dari rel. sehingga dapat mencegah genangan air merusak struktur rel dan bantalan di bawahnya. 


5. Pencegahan pertumbuhan vegetasi

Jenis vegetasi biasa akan kesulitan tumbuh diatas material berbatu. Balast dapat menghambat pertumbuhan vegetasi atau tumbuhan di sekitar rel, mengurangi kemungkinan gangguan yang mungkin disebabkan oleh tanaman tumbuh di badan jalan rel. 


Meskipun balast memiliki peran penting dalam menjaga performa rel kereta api, seiring berjalannya waktu, balast bisa terkompresi atau terkontaminasi oleh debu, tanah, dan kotoran lainnya. Ini dapat mengurangi kemampuan balast untuk menjalankan fungsinya secara optimal. Oleh karena itu, pemeliharaan rutin termasuk penambahan balast baru dan pembersihan balast menjadi penting untuk menjaga keandalan dan keselamatan sistem perkeretaapian.


Perawatan balast
sumber: dokumentasi pribadi


Dalam dunia yang terus berubah, teknologi terus mengalami kemajuan, namun balast tetap menjadi komponen kunci dalam infrastruktur perkeretaapian. Balast berperan dalam memastikan bahwa perjalanan kereta api tetap aman, nyaman, dan efisien bagi semua pengguna jasa transportasi ini. 



Referensi: PM No. 60 Tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api

BERBAGAI JENIS JEMBATAN KERETA API DARI MASA KE MASA

Pada masa kolonial Belanda, konstruksi jembatan kereta api di Indonesia dibangun dengan beragam tipe dan bentuk, menyesuaikan kebutuhan sert...